LEGENDA / CERITA RAKYAT UMBUL NOGO

Legenda Umbul Nogo

LEGENDA / CERITA RAKYAT UMBUL NOGO

Kisah cerita ini diambil dari penuturan Mbah Imo Sukarto, yaitu orang tertua yang dikawongkan menurut bahasa jawa, atau istilahnya bisa disebut sebagai juru kunci pada saat itu.

Kisah cerita ini berawal dari jaman Raja Mataram Kuno yang mempunyai seorang putra yang bernama Raden Pekik. Malangnya Raden Pekik tidak dapat melihat atau buta, hal ini selalu menimbulkan rasa cemas dan gelisah bagi sang raja atau ayah Raden Pekik tersebut. Tidak hanya berpasrah dalam kegelisahan dan kecemasan, sang raja selalu berupaya mendapatkan petunjuk demi kesembuhan anaknya, Raden Pekik. Akhirnya, upaya tersebut mendapatkan jawaban yakni sebuah petunjuk yang diterima lewat bisikan suara yang mengatakan bahwa, “Putra dapat disembuhkan apabila berkenan mencari pujangga yang bernama Kyai Sidik Wacono, yang tinggal di daerah tepencil yaitu di dlepih kahyangan”. Setelah mendapatkan bisikan petunjuk Sang Raja bergegas memberikan perintah kepada anaknya, Raden Pekik untuk mencari kyai Sidik Wacono agar mendapat kesembuhan dan terlepas dari kebutaan yang ia alami.

Raden Pekik segera melaksanakan perintah dari ayahnya, ia berangkat dengan mendapatkan kawalan dua pendherek abdi dalem atau pengawal kepercayaan raja yaitu: Ki Jebres dan Ki Merkak. Perjalanan yang ditempuh sampai menyusuri hutan, lautan serta pegunungan. Kepergian Raden Pekik dalam usaha mendapatkan kesembuhan dengan mengembara membuat Raden Pekik mendapatkan julukan sebagai Pangeran Murco Lelono. Setelah menempuh perjalanan yang panjang, akhirnya sampailah pada tempat yang dituju yaitu pesanggrahan atau persinggahan Kyai Sidik Wacono. Petunjuk yang disampaikan lewat bisikan suara menjadi kenyataan. Raden Pekik atau Pangeran Murco Lelono benar-benar mendapatkan kesembuhan atas kebutaannya, sehingga ia bisa melihat. Setelah penderitaannya berakhir atau kebutaan yang ia alami sudah disembuhkan, Raden Pekik segera memohon pamit kepada Kyai Sidik Wacono. Kepulangan Raden Pekik dari dlepih, Kyai Sidik Wacono berpesan untuk tidak menuju ke arah barat. Setelah itu, bergegaslah pergi Raden Pekik bersama Ki Jebres dan Ki Merkak pengawalnya dengan menunggang seekor gajah. Dalam perjalanan dengan jarak tempuh yang sangat jauh timbulah kelelahan dan keletihan, sehingga mereka harus beristirahat di suatu tempat untuk tidur dan melepas rasa lelah.

Ketika akan beristirahat tiba-tiba terlihat cahaya yang mengarah ke arah utara dan memancar tidak ada putusnya. Sinar cahaya tersebut menimbulkan rasa ketertarikan bagi Pangeran Murco Lelono. Oleh sebab itu untuk mengikuti cahaya tersebut Pangeran Murco Lelono bersama-sama Ki Jebres dan Ki Merkak lalu menunggang gajah, kemudian setelah mendekati cahaya tersebut lalu turunlah mereka dari punggung gajah peliharaannya itu. Tempat tersebut diberi nama gleger saat ini keadaannya berubah menjadi makam yang disebut makam gleger tepatnya di Dusun Gumuk Desa Gunungan. Dengan adanya kejadian cahaya yang memancar tersebut membuat Raden Pekik Murco Lelono mendapatkan julukan Pangeran Cahyo yang artinya cahaya yang memancar terang. Kemudian sampailah Pangeran bersama dua pengawal pada akhir cahaya, yang ternyata di situ terdapat suatu kerajaan. Kerajaan tersebut merupakan istana tempat tinggal seorang putri yang bernama Putri Serang atau Putri Kencono. Rasa ketertarikan muncul dari dalam hati Pangeran Murco Lelono terhadap Putri Serang atau Putri Kencono yang selalu melambai-lambaikan tangannya. Oleh karena rasa ketertarikannya masuklah Pangeran Murco Lelono dalam kerajaan tersebut untuk menjumpai sorang putri yang sangat cantik (endah ing warno) yaitu Putri Serang. Segeralah memasuki pintu yang akhirnya ditutup rapat dan digapit, akhirnya terjadilah saling kasmaran dalam bahasa jawa disebut gandrung atau andum katresnan. Di situlah kerajaan tersebut saat ini mendapatkan julukan Lawang Gapit yang terletak di Utara Umbul Nogo.

Putri Serang atau Putri Kencono memiliki peliharaan berupa seekor ular naga yang sangat besar, begitu juga Pangeran Murco Lelono yang memiliki peliharaan seekor gajah yang sangat besar dan perkasa, serta dua abdi yakni Ki Jebres dan Ki Merkak yang selalu setia menjaga dan menunggu Sang Pangeran. Tidak terhitung lamanya menunggu, Ki Jebres dan Ki Merkak merasa mulai gelisah dan lapar hingga tertidur karena rasa laparnya. Tidak ada makanan di sekitar apalagi air. Setelah sampai tertidur, kedua abdi Ki Jebres dan Ki Merkak seperti mendengar suara dan membuat mereka terbangun dengan suara yang terus membayangi. Suara itu terus mereka ikuti, sampai ke arah Utara dan berakhir di suatu tempat yang dihuni oleh seorang kakek dan seorang nenek yang sangat tua, bernama Ki Makarang dan Nyi Makarang. Ketika menjumpai nenek dan kakek tersebut, Ki Jebres dan Ki Merkak meminta makanan untuk sekedar menghilangkan rasa lapar. Akan tetapi tidak tersedia makan, Ki Makarang dan Nyi Makarang hanya memberikan satu buah kelapa muda saja untuk menghilangkan rasa dahaga. Diterimalah kelapa muda tersebut, namun tidak segera dikupas dan diminum akan tetapi dibawa pulang kembali. Mengingat tugas dan kewajiban mereka sebagai abdi yang menjaga dan menunggu Pangeran. Seketika teringat bahwa saat istirahat, dari rumah Kyai Sidik Wacono dlepih tersebut membawa payung. Oleh karenanya bergegaslah mereka pergi untuk mengambil payung tersebut, pada tempat di mana mereka bersama-sama Pangeran Murco Lelono beristirahat. Kelapa muda belum sempat diminum, namun hanya diletakan atau dipendam dalam tanah yang penuh dengan semak-semak. Tempat tertinggalnya payung tersebut, sekarang diberi nama watu payung tepatnya di Dusun Gunungan, Desa Gunungan, Manyaran Wonogiri.

Asyiknya perjumpaan yang begitu lama antara Putri Serang dengan Pangeran Murco Lelono dalam kerajaan tersebut. Menimbulkan kemarahan gajah milik Pangeran Murco Lelono dengan berusaha membuka pintu kerajaan Putri Serang. Namun ular naga milik Putri Serang juga berusaha utuk mencegahnya. Sehingga terjadilah peperangan yang begitu luar biasa antara ular naga dengan gajah, akan tetapi tidak ada diantara mereka yang menang maupun kalah, dalam bahasa jawa disebut sampyuh. Menurut penuturan Mbah Imo, “awake ajur nganti mencelat tekan ngendi-ngendi”. Maksudnya tubuh dari gajah dan naga itu hancur dan tersebar sampai di mana-mana akibat dari pertarungan yang terjadi. Tubuh yang terpencar antara lain:

  • Kepala naga dan kepala gajah berada di lokasi kejadian pada satu tempat.
  • Gading gajah jatuh di Selogiri saat ini disebut Gunung Gading.
  • Punggung gajah jatuh di wonogiri yang disebut Gunung Gajah Mungkur.
  • Pusar tubuh ular naga jatuh di Dusun Gunung Cilik, saat ini juga menjadi sumber mata air yang disebut Umbul Ngudal.
  • Ekor atau pethit ular jatuh di Mbaseng Selogiri.
  • Watu payung yang berada di Dusun Gunungan, Desa Gunungan.

Mbah Imo kemudian menceritakan kembali tentang kejadian itu, ketika Ki Jebres dan Ki Merkak merasa lapar dan haus, Ki Mangkrang dan Nyi Mangkrang memberikan kelapa muda untuk mereka. Namun mereka belum sempat memakan kelapa muda tersebut, kelapa muda itu hanya dipendam di dalam tanah bersemak dan ketika mereka hendak memakannya, mereka tidak ingat lagi dimana mereka menaruhnya. Mereka berupaya untuk mencari kelapa muda tersebut menggunakan kayu yang telah dilancipkan, kemudian mereka menancapkan kayu kesana kemari di tanah bersemak dan dengan tidak sengaja kelapa muda tertancap kayu, sehingga munculah percikan air yang sangat luar biasa dan tidak dapat dihentikan bahkan sampai menggenangi pekarangan milik Ki Makarang. Oleh karena itu ki makarang menyuruh Ki Jebres dan Ki Merkak untuk menghentikan percikan air yang meluap tersebut dengan syarat seekor kambing kendit, sebuah ijuk, dan dandang tembaga. Selanjutnya kambing kendit, ijuk, dan dandang tembaga segera dimasukkan secara bersama-sama, jika tidak segera dihentikan maka akan menjadi lautan.